Mengawal Panen Raya

Bojonegoro (22/1) – KPD Surabaya mengawal program kerja Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, Bupati Bojonegoro, Suyoto, dan Ketua KPPU, M. Syarkawi Rauf, di Desa Gedongarum Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro.

Program kerja dimulai dengan memanen padi dilanjutkan ke penanaman dan pemberian bantuan kepada petani di Bojonegoro.

Kunjungan kerja ini diharapkan Pemerintah Pusat agar mengetahui kondisi produksi beras di Indonesia khususnya di Bojonegoro surplus, mengingat Kabupaten ini mendekati panen raya.

Sukarwo menyatakan, prospek panen padi di wilayah Jawa Timur pada Januari 2018 ini seluas 75.000 hektar, Februari seluas 242.000 hektar dan Maret seluas 456.000 hektar. Untuk prospek produksi beras pada  Januari sebanyak 285.000 ton, Februari sebanyak 960.000 ton dan Maret sebanyak 1.7 juta ton.

“Untuk urusan padi dan beras Jawa Timur bisa diandalkan untuk pemenuhan kebutuhan Padi secara Nasional, namun perlu pemetaan yang jelas dan secara terperinci untuk menghindari terjadinya perbedaan perhitungan seperti yang saat ini terjadi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan terkait rencana kebijakan impor beras,” kata Sukarwo.

Mengamini Sukarwo, Syarkawi juga menyatakan data terkait dengan produksi beras di Indonesia memang surplus. Namun di pasaran harga terus melonjak naik hingga mencapai Rp14.000/kg untuk beras premium, tentunya hal ini perlu ada penelitian terkait proses distribusinya. “Seperti yang kita ketahui bersama proses distribusi untuk produk pangan kita ini tergolong panjang dan hal ini menyebabkan banyak peluang bagi para mafia pangan untuk melakukan spekulasi untuk memainkan harga. Tugas kita bersama saat ini adalah bagaimana caranya kita memperkuat sektor pertanian di hulu atau petani agar mempunyai kekuatan tawar dan bisa menikmati hasil panen. Dan juga bagaimana caranya untuk memangkas proses distribusi yang terlalu panjang ini agar tidak terjadi permainan harga diproses distribusinya. KPPU sendiri selalu melakukan pengawasan dan penelitian dalam hal pangan supaya memang dalam sektor pangan yang sangat krusial ini agar tidak terjadi praktek-praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat hal ini bertujuan untuk kepentingan bersama termasuk petani yang bisa menikamti hasil panen dan juga masyarakat bisa menikmati produksi pertanian dengan harga yang sebanding dengan kualitasnya,” jelas Syarkawi. (ED)